Bruno Kettels – Journey of the Champion

If you really want to do something, make sure that you love it and do the best!

Pesan di atas menjadi salah satu kunci sukses Bruno Kettels hingga mampu membuktikan ambisinya menjadi yang terbaik di Mister International 2009 di Taiwan. Selain mendapat gelar tersebut, ia juga menjadi kebanggaan Bolivia sebagai kandidat pertama yang berhasil di international pageant.

Dalam bahasa Inggris yang cukup fasih, ia membuka pembicaraan seputar kegemarannya dalam bermain musik terutama gitar, berenang, dan tentu juga nge-gym. “I am a really big fan of gym,” tambahnya sambil tertawa. Di sela-sela waktu kosong saat pagelaran Mister International 2010, yang pertama kalinya diadakan di Indonesia, obrolan pun berlanjut ke topik yang lebih serius.

Mister International, Bukti Kerja Keras.
“I was really surprised, I trained myself hard for the pageant”. Pada awalnya ia mengalami kesulitan saat bergabung di sebuah kontes pria internasional prestisius ini. Negara asalnya, Bolivia, belum pernah memenangkan satu titel apapun di pageant manapun. Rasa takut itu semakin menjadi-jadi mengingat ia harus berkompetisi dengan peserta dari banyak negara, baik dari Eropa, Amerika dan Asia. Tidak mau bermimpi terlalu tinggi, target 2nd runner up dibawanya sampai ke Taichung Taiwan, tempat digelarnya Mister International 2009. “But finally I could win over Spain! I am really happy,” Ia tidak menyangka ia berhasil mengalahkan Spanyol yang dikenal sering memborong gelar juara di ajang male pageant ataupun female pageant.

Seorang Bruno Kettels-pun akhirnya yakin kemenangan itu berasal dari keinginannya yang besar, selain terus memegang pesan keluarga bahwa apapun yang hendak ia capai haruslah dilakukan dengan motivasi tinggi dan usaha terbaik. Dia melatih diri dengan tingkat disiplin yang sangat tinggi, memilih makanan sehat, terutama selama 6 bulan sebelum kemenangan di Taiwan.

Ia juga dengan sangat bijak mengaku tidak ada perbedaan signifikan yang terjadi dalam dirinya baik sebelum ataupun sesudah gelar internasional menempel di namanya. Namun satu hal yang ia sadari untuk dijaga adalah dia harus lebih berhati-hati atas semua yang dilakukan, karena sekarang semua orang melihat dan memperhatikan setiap apapun yang ia lakukan, “I am more responsible and I take care for what I am doing. I also should take care my gym and school,” ucapnya.

From Skinny to Muscular
Mungkin banyak orang tak akan percaya perjuangan Bruno untuk meraih tubuh atletisnya sampai seperti sekarang tanpa melihat perbedaannya. Sebagai gambaran, ia menceritakan bagaimana awal pembentukan tubuh atletisnya terjadi, “Sebenarnya dulu saya selalu bertubuh skinny, dan latihan di gym berawal saat masih saya sekolah. Semua orang termasuk saya berkonsentrasi hanya kepada buku sampai akhirnya saya bertaruh dengan teman! Saya dan dia bilang, ayo kita diet dan mulai berlatih. Disitulah kami saling termotivasi untuk semakin baik dalam nge-gym,” ujarnya sambil mengenang.

Mulai hari itu, gym telah menjadi bagian penting di keseharian pria yang juga hadir di Grand Final L-Men of The Year 2010. Saat sedang tidak ada kegiatan, dengan rutin dia nge-gym dua kali sehari, yaitu pagi dan sore selama enam hari berturut-turut. Sedangkan saat sibuk dan jika sampai sudah lewat dua hari tidak berlatih di gym, dilakukan alternatif latihan seperti push-up di kamar, atau mencari ruangan terbuka untuk latihan kardio seperti lari, bersepeda, atau sekedar berjalan cepat.

Usahanya mempertahankan tubuh dengan otot yang terpahat tidak hanya dengan latihan saja. Pengetahuan tentang nutrisi dan tips-tips latihan didapat dengan bertanya pada teman yang sudah berpengalaman, membaca di majalah, browsing di Internet bahkan belajar dari video. Menurutnya, semua teori yang didapat itu jangan hanya sekedar untuk pengetahuan saja tapi juga dipraktekkan karena setiap orang punya tubuh yang berbeda. “Different body, different treatment, different result,” jelasnya. Untuk tahu treatment yang paling pas, Bruno butuh kurang lebih satu tahun dengan mencoba beberapa teknik yang paling baik untuk perkembangan tubuh atletisnya.

“Everyone needs to keep a healthy lifestyle. Everyone!”
Bagi mahasiswa teknik ini, pola hidup sehat tidak hanya harus dijalankan oleh mereka yang berprofesi sebagai model atau yang hendak mengikuti pageant namun semua orang harus menerapkan pola hidup sehat. Ia sendiri membuktikan efek dari olahraga teratur dan pola makan yang baik, dia merasa sehat, tidak mudah lelah, enerji juga tidak mudah cepat habis.

Pria yang fasih berkomunikasi dengan bahasa Spanyol dan Inggris ini menutup pembicaraan dengan satu pesan yang banyak orang keluhkan, masalah waktu. “Jangan mudah menyerah karena semuanya butuh waktu. Kita juga perlu ‘mendengar’ tubuh, jangan sampai overtrained dan melukai tubuh sendiri,” tukasnya sambil bersiap melanjutkan photo shoot.